BERSENYUM di Kota Temanggung
Kota
Temanggung berada di Kabupaten Temanggung. Kota ini menjadi pusat
pemerintahan dari daerah tersebut. Perkembangan kota ini banyak
dipengaruhi oleh kondisi lingkungan alam yang subur di wilayah
sekitarnya. Daerah sekitar bukannya justru menjadi hinterland
yang dapat diabaikan begitu saja. Kabupaten Temanggung terkenal dengan
beragam hasil bumi yang memiliki keunggulan komparatif dibandingkan
dengan hasil bumi yang sama di daerah lainnya. Kota ini pun mendapatkan
“hidup” daru kemampuan menciptakan ketekaitan dengan wilayah sekitarnya
ini, misalnya dengan menjadi pusat administrasi pemerintahan daerah
maupun menjadi pusat koleksi dan distribusi dari hasil bumi yang
diproduksi oleh sekitarnya.
Sejarah Kota
Sejarah
kota ini dapat dirunut jauh sebelum dinasti Mataram Islam.
Keberadaannya sekarang tidak dapat dilepaskan dari sejarahnya tersebut.
Konteks sosial politik yang berkembang saat itu mempengaruhi posisi
strategis kota, meskipun kondisi fisik geografisnya turut berkontribusi,
terutama dalam tahap perkembangan saat ini. Dimulai pada pertengahan
abad ke-IX, dibuat Prasasti Wanua Tengah yang menceritakan perubahan
status tanah di Desa Wanua Tengah (sekarang disebut Desa Wanua Tengah di
Kec. Bulu di sebelah barat kota), yang semula merupakan tanah perdikan
atau tanah Simah yang mendapat kebebasan pajak. Perubahan status tanah
ini terkait dengan persembahan kepada biara di Pikatan oleh Rakai
Panangkaran, berlokasi 3 km dari pusat Kota Temanggung. Permukiman pun
tumbuh di daerah ini yang secara perlahan menjadikan daerah sekitarnya
menjadi berkembang. Daerah lainnya yang turut berkembang menjadi kota di
Kabupaten Temanggung adalah Parakan, yang terletak di sebelah timur
Kota Temanggung. Desa ini mulanya berasal dari kata “marak” yang
didirikan oleh Prabu Benowo.
Pada
pemerintahan Sultan Agung (1613 – 1645), daerah Kedu termasuk ke dalam
Jawi Rangkah yang dibagi menjadi 2 bagian. Sebagian dari daerah tersebut
disebut sebagai Siti Bumi dan sebagian lagi sebagi Siti Bumijo. Kota
Temanggung berada di dalam Siti Bumi. Tahun 1827, Raden Ngabehi
Jayanegara menjadi bupati di Menoreh menurut pengangkatan oleh
pemerintah Hindia Belanda. Sementara itu, Temanggung menjadi ibukota
dari Menoreh. Selanjutnya Temanggung memiliki Asisten Residen dengan
pertimbangan keamanan. Pada tahun 1834, Asisten Probolinggo dipindahkan
ke Kabupaten Menoreh yang berubah menjadi Kabupaten Temanggung.
Tahun-tahun berikutnya adalah saat-saat daerah ini memperoleh status
otonominya dengan Kota Temanggung menjadi salah satu dari dua kawasan
perkembangan yang berkembang, yaitu Temanggung dan Parakan.

Tugu Tani yang berada di alun-alun Kota Temanggung menunjukkan keunggulan produksi hasil pertanian di Kab. Temanggung
Pada
masa kolonialisme Belanda, pemerintah Hindia Belanda menjadikan Kota
Temanggung sebagai pusat pemerintahan dari Keresidenan Menoreh.
Pemerintah Hindia Belanda juga membangun jaringan drainase yang
keberadaanya sampai saat ini masih dapat ditemukan. Jaringan ini juga
masih dimanfaatkan oleh warga kota. Sayangnya, jaringan drainase ini
tidak terintegrasi dengan jaringan baru perkotaan.
Tata Ruang Kota
Kota
Temanggung berada pada ketinggian rata-rata 650 mdpl. Pertumbuhan kota
pada arah selatan dibatasi oleh pegunungan (G. Sindoro dan G. Sumbing)
dengan ketinggian mencapai 1.500 mdpl untuk wilayah kabupatennya.
Aksesibilitas kota terbuka dari arah timur – barat yang merupakan jalan kolektor primer. Jalan
ini membuka akses kota terhadap kota-kota lain yang berdekatan, seperti
Magelang maupun Wonosobo. Sepanjang jalan utama ini tumbuh kegiatan
perdagangan dan jasa yang menentukan pula pengelolaan lalu lintas ke
dalam maupun ke luar kota. Pasar Kliwon berada di pusat kota baru yang merupakan bagian dari koridor komersil Jl. Sudirman
– MT. Haryono. Poros utara – selatan sedikit sekali mempengaruhi
pertumbuhan kota. Akses pada jalan ini, terutama adalah
kegiatan-kegiatan pada skala lingkungan. Pada arah ini pula merupakan
kawasan limitasi, seperti irigasi teknis di kawasan bagian utara maupun
perbukitan di bagian selatan.
Terkait dengan aksesibilitas, kota ini menyediakan jalur pedestrian yang berlokasi pada jalan dengan kedalaman lokal sekunder. Dengan
pola yang menyebar ke pinggiran kawasan perkotaan, jalur pedestrian ini
memberikan kemudahan mobilitas bagi pejalan kaki. Meskipun moda utama yang digunakan untuk transportasi adalah angkotan kota berupa minibus.

Masjid Agung yang menjadi salah satu pusaka kota yang perlu dilindungi, sekaligus menjadi elemen pembentuk struktur kota
Pada
umumnya kota-kota pra-kolonial, pusat pemerintahan lama memiliki
komponen-komponen tradisional yang turut membentuk struktur ruang sampai
saat ini. Tempat
kediaman adipati berada berdekatan dengan alun-alun maupun Masjid Agung
dan penjara. Pusat lama ini menjadi simbol religius dan kuasa agung
raja-raja Jawa yang memerintah. Secara fungsional, komponen-komponen ini
pun mengalami transisi, terutama mengarah kepada komersialisasi
dibandingkan fungsi spiritual. Terdapat pemanfaatan alun-alun sebagai
tempat berjualan maupun usaha informal lainnya.
Pusat
yang baru adalah pasar regional yang melayani wilayah kabupaten.
Bangunan dengan kepadatan menengah berada di kawasan perdagangan ini
dengan pola kegiatan memanjang sepanjang koridor jalan utama. Dengan
pengaturan kegiatan yang dilakukan secara tertib, kegiatan di pasar
tidak mengganggu lalu lintas kendaraan yang melalui koridor ini. Menuju
ke pinggiran kota masih dapat ditemukan sawah dan kebun penduduk yang
sangat berperan menyediakan ruang terbuka bagi kota.
Sosial Ekonomi
Ekonomi basis kota adalah perdagangan. Faktanya, denyut nadi kota ini berada di sepanjang koridor Jl. Sudirman
– MT. Haryono, mulai dari subuh hingga malam hari. Komoditas yang
diperdagangkan di Pasar Kliwon adalah hasil bumi yang berasal dari
daerah sekitarnya, seperti kopi, sayur-mayur, maupun tembakau. Sektor
basis ini kemudian menumbuhkan kegiatan ikutan lainnya (sebagai sektor
non-basis), diantaranya: transportasi, perbankan, dan lain-lain.
Tidak
ditemukan industri skala menengah – besar di kawasan perkotaan ini.
Sebagian besar industri berupa industri rumah tangga, seperti tahu
maupun cerutu yang tersebar di sejumlah desa. Bentuk industri ini
memungkinkan munculnya pengatup pengaman bagi pengangguran, namun dengan
skala penyerapan yang terbatas. Untuk memecahkan masalah pengangguran,
terdapat inisiatif untuk membangun lembaga pelatihan tenaga kerja yang
nantinya berperan untuk menyalurkan sejumlah tenaga kerja ke
perusahan-perusahan perorangan dan koperasi.Di
beberapa lokasi di dalam kawasan, dapat ditemukan gudang-gudang yang
menampung tembakau. Gudang-gudang ini disewakan kepada para pemasok
tembakau bagi pabrik-pabrik rokok, seperti Gudang Garam di Kediri.
Sosial Budaya
Pada
awal tahun 1990-an, Kota Temanggung mendapatkan penghargaan Adipura
Kencana. Penghargaan ini diperoleh karena kota tersebut mampu menjadi
salah satu kota terbersih untuk kategori kota kecil selama lima tahun
berturut-turut pada masa itu. Namun, lain dulu lain sekarang. Perhatian
yang sedikit menurun terhadap kebersihan, seperti yang diakui sebagian
warga kota merupakan perubahan dalam perilaku yang berkembang saat ini.
Padahal, kota ini memiliki motto: BERSENYUM (Bersih, Sehat, Nyaman untuk
Masyarakat).
Semakin
meningkatnya jumlah pengangguran menyebabkan kekhawatiran mendalam dari
warga kota. Salah satu akibat yang ditimbulkan dari persoalan tersebut
adalah kriminalitas, meskipun tingkatnya masih lebih rendah.
Yang
jelas bahwa kekuasaan raja dan para adipati sudah digantikan dengan
kekuasaan birokrasi, namun pengaruhnya terhadap tata ruang di pusat kota
lama masih ada sampai saat ini. Pendopo Penganyoman, kediaman adipati
yang kemudian menjadi kediaman bupati Temanggung masih berdiri sampai
sekarang. Alun-alun dipelihara keberadaannya dengan tetap mempertahankan
keberadaan pohon beringin yang dikeramatkan.

Pendopo Penganyoman - pusat pemerintahan tradisional yang menjadi rumah dinas bupati Temanggung saat ini
Penutup
Dalam
perkembangannya, kota ini akan banyak dipengaruhi oleh kebijakan
regional untuk menempatkan fungsi kota ini ke depan. Sebagai PKL, kota
ini berperan sebagai pusat koleksi dan distribusi komoditas dari wilayah
kabupaten. Fungsi ini sudah berlangsung dengan baik, meskipun tidak
seluruh produk dari wilayah kabupaten mampir ke kota ini. Justru
beberapa produk dengan nilai tambah tinggi dijual langsung ke Pusat
Kegiatan Wilayah terdekat seperti Kota Magelang dan Wonosobo.
Ada
kesadaran akan kondisi pertumbuhan yang stagnan di kalangan birokrat
daerah, sehingga pemerintah daerah pun berupaya mencari alternatif lain
sebagai ekonomi basis kota. Salah satu pilihannya adalah mengembangkan
kegiatan rekreasi dan wisata yang telah ada, seperti: Pikatan, Taman
Kartini. Pengembangan pariwisata ini akan sejalan dengan karakteristik
sosial budaya warga kota yang terbuka menerima perubahan dan ramah.
Dalam
kebijakan regional selanjutnya di dalam RTRW Kabupaten Temanggung, kota
ini akan mendapatkan “saingan” berupa pengembangan kawasan agropolitan
yang berada di jalan nasional yang menghubungkan Kota Magelang dan
Semarang. Kondisi ini sedikit tidak menguntungkan bagi kota ini karena
akan menjadikan perkembangan selanjutnya lebih mengarah ke arah timur,
yaitu Kranggan dan Secang, kecuali ditemukan formula bagi integrasi
dengan kawasan perkotaan yang ada. [ ]
https://gedebudi.wordpress.com/2008/11/13/bersenyum-di-kota-temanggung/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar